Agribisnis & Pertanian
Menghitung Harga Pokok Produksi Hasil Pertanian
Langkah sederhana mencatat biaya produksi dan menghitung harga pokok agar petani tidak menentukan harga jual hanya berdasarkan perkiraan.
Oleh Admin Farmnesia•
Bagikan artikel ini
Bantu informasi ini menjangkau petani, peternak, dan komunitas lainnya.
Harga jual yang terlihat tinggi belum tentu menghasilkan keuntungan. Petani perlu mengetahui seluruh biaya yang dikeluarkan untuk menghasilkan satu kilogram, satu ikat, atau satu unit produk. Perhitungan ini dikenal sebagai harga pokok produksi.
Catat biaya benih atau bibit, pupuk, pestisida, tenaga kerja, sewa lahan, bahan bakar, irigasi, penyusutan alat, kemasan, transportasi, dan biaya lain yang benar-benar berkaitan dengan produksi. Pisahkan biaya pribadi agar laporan usaha tidak tercampur.
Jumlahkan seluruh biaya dalam satu periode atau musim tanam. Setelah panen, catat hasil yang layak dijual. Harga pokok sederhana dapat dihitung dengan membagi total biaya produksi dengan jumlah produk yang layak dijual.
Contohnya, apabila total biaya satu musim adalah Rp10.000.000 dan hasil layak jual 2.000 kilogram, harga pokok sederhananya adalah Rp5.000 per kilogram. Harga jual perlu mempertimbangkan margin, risiko kerusakan, biaya distribusi, perubahan harga pasar, dan kualitas produk.
Produk rusak atau tidak lolos sortir tetap perlu dicatat karena mengurangi hasil yang dapat dijual. Dengan pencatatan rutin, pemilik dapat membandingkan biaya dan hasil antarpetak, musim, atau komoditas, lalu menentukan perbaikan yang paling berdampak.
Temukan informasi bermanfaat lainnya
Jelajahi artikel edukasi dan berita pertanian serta peternakan dari Farmnesia.
Lihat semua artikel →